• Mon. Oct 26th, 2020

Zonasi Risiko jadi Pertimbangan, Pemuka Agama Pilih Belum Aktifkan Kegiatan Rumah Ibadah 

BySteven Supit

Jul 2, 2020
IMG-20200702-WA0007

MANADOLINK – Setelah melakukan pembahasan maraton pada akhirbulan ini, Gugus Tugas Kota Manado dan para tokoh agama bersama BKSAUA dan FKUB Kota Manado, akhirnya mengambil sikap resmi terkait permintaan para tokoh agama untuk mengaktifkan kembali kegiatan di rumah ibadah.

IMG-20200702-WA0011Walikota Manado, G.S. Vicky Lumentut dalam kesempatan pertama melakukan sosialisasi dan tatap muka kepada 1200 pemuka agama di Manado pada Rabu 1 Juli 2020 mengemukakan pertimbangan zonasi risiko dan kesiapan penanggung jawab pengelola rumah ibadah dalam memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Gugus Tugas menjadi pertimbangan utama. ‘Jika hanya mempertimbangkan zonasi risiko di mana Kota Manado ditetapkan sebagai zona merah, maka kegiatan di rumah ibadah belum dapat dilaksanakan. Tapi karena Pak Gubernur sudah mengeluarkan kebijakan untuk kita pedomani dan keputusan Gugus Tugas Nasional menyerahkan keputusan kepada Gugus Tugas setempat, maka saya putuskan tidak akan mengeluarkan ijin, tetapi kriteria yang harus dipenuhi jika direncanakan untuk diaktifkan kembali kegiatannya. Jadi tanggung jawabnya adalah tanggung jawab bersama, baik Gugus Tugas maupun pimpinan umat,’ tegas Walikota.

IMG-20200702-WA0010Berikut beberapa kriteria yang dibacakan Sekretaris Gugus Tugas Kota Manado sekaligus Sekretaris Daerah Kota, Micler C.S. Lakat.

IMG-20200702-WA0009Kewajiban Bagi Pelaksana kegiatan ibadah :
1. Kewajiban Pengurus atau Penanggung Jawab Rumah Ibadah
a. Menyiapkan petugas untuk melakukan dan mengawasi penerapan protokol kesehatan di area rumah ibadah
b. Melakukan pembersihan dan disinfektan secara berkala di rumah ibadah.
c. Membatasi jumlah anggota jemaat/anggota jemaah yang hadir, tidak boleh lebih dari 30% (tiga puluh persen) dari jumlah keanggotaan secara keseluruhan dan melihat kemampuan kapasitas rumah ibadah;
d. Mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk rumah ibadah. Jika terdapat AC lakukan pembersihan filter secara berkala.
e. Membatasi jumlah pintu/jalur keluar masuk rumah ibadah (tidak berpapas-papasan), guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan.
f. Menyediakan fasilitas tempat cuci tangan/sabun/hand sanitizer di pintu masuk dan pintu keluar rumah ibadah.
g. Menyediakan alat pengecekan suhu tubuh di pintu masuk bagi seluruh peserta ibadah. Jika ditemukan peserta dan pengguna rumah ibadah dengan suhu lebih dari 37.5 derajat celsius (dua kali pemeriksaan dengan jarak 5 menit), tidak diperkenankan memasuki rumah ibadah.
h. Melakukan pengaturan jumlah umat/jemaah pengguna ruumah ibadah yang berkumpul dalam waktu bersamaan untuk memudahkan pembatasan jaga jarak.
i. Mempersingkat durasi waktuu pelaksanaan ibadah tanpa mengurangi ketentuan kesempurnaan beribadah.

Kewajiban Masyarakat yang akan melaksanakan Ibadah di Rumah Ibadah :
1. Kewajiban masyarakat yang akan melaksanakan ibadah di rumah ibadah :
a. Jemaat/umat dalam kondisi sehat.
b. Meyakini bahwa rumah ibadah yang akan digunakan telah memiliki Surat Keterangan Aman Covi19 dari pihak yang berwenang.
c. Menggunakan masker sejak keluar rumah dan selama berada di area rumah ibadah.
d. Membawa seluruh peralatan ibadah sendiri termasuk kitab suci, sajadah, dan lain sebagainya.
e. Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan
f. Menjaga jarak antar jemaah/umat minimal 1 (satu) meter.
g. Menghindari berdiam lama di rumah ibadah atauu berkumpul di area rumah ibadah selain untuk kepentingan ibadah yang wajib
h. Melarang beribadahh di rumah ibadah bagi anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta orang dengan sakit bawaan yang berisiko tinggi terhadap Covid19.
i. Ikut peduli terhadap penerapan pelaksanaan protokol kesehatan di rumah ibadahh sesuai dengan ketentuan.

Dalam surat yang dibuat dan ditandatangani oleh Pimpinan Umat selaku Penanggung jawab rumah ibadah tersebut juga terdapat pernyataan untuk bersedia bertanggung jawab dan melakukan penghentian kegiatan beribadah serta penutupan sementara rumah ibadah jika dalam perkembangan pelaksanaan kegiatan ibadah di rumah ibadah timbul kasus penularan ditemukan ketidaktaatan terhadap protokol yang telah ditetapkan.

‘Dengan dimasukkannya surat seperti ini kepada Gugus Tugas Kota Manado, maka kami dapat mendokumentasikan sekaligus mengawasi rumah ibadah yang telah mulai melaksanakan kembali kegiatannya,’ urai Walikota Lumentut.

Meski telah diberikan Pada bagian akhir sosialisasi, beberapa pemuka agama yang menjadi penanggung jawab rumah ibadah secara tegas menyatakan bahwa pihaknya tetap memilih untuk belum mengaktifkan kegiatan di rumah ibadah sambil tetap mengikuti perkembangan zonasi risiko dan penyebaran kasus Covid19 di wilayahnya.