Lawalata Usung Jargon Manado Kota Sehat
Manado

Lawalata Usung Jargon Manado Kota Sehat

dr. Arthur Mosesz Lawalata, M.Kes
dr. Arthur Mosesz Lawalata, M.Kes

“Sehat warganya, Maju kotanya, Sejahtera semuanya” program jitu salah satu bakal calon Walikota Manado, dr. Artur Mozes Lawalata, MKes.
Saat Manadolink mendapat kesempatan mewawancarai, dokter yang ramah dan sarat akan prestasi ini, mengurai programnya. Bahkan sesekali dalam pemaparannya, Lawalata selingi  dengan pertanyaan.
“Ada yang tahu mengapa Puskesmas dibentuk? Apakah puskesmas dilarang merawat pasien? Lantas apa tugas utama puskesmas yang seharusnya?”

Perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak pemerintahan Belanda pada abad ke-16 yaitu adanya upaya pemberantasan penyakit cacar dan cholera yang sangat ditakuti oleh masyarakat. Pada tahun 1968 diterapkan konsep puskesmas yang dilangsungkan dalam Rapat Kerja Nasional di Jakarta, yang membicarakan tentang upaya mengorganisasi sistem pelayanan kesehatan di tanah air, karena pelayanan kesehatan pada saat itu dirasakan kurang menguntungkan dan dari kegiatan-kegiatan seperti Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA), Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) dan sebagainya masih berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling berhubungan.

Melalui rakernas tersebut timbul gagasan untuk menyatukan semua pelayanan kesehatan tingkat pertama ke dalam suatu organisasi yang dipercaya dan diberi nama Pusat Kesehatan Masyarakat.

Secara gamblang mantan pejabat esselon III di Kementerian Kesehata RI, Puskesmas dibedakan menjadi 4 macam yaitu,

1) puskesmas tingkat desa,
2) puskesmas tingkat kecamatan,
3) puskesmas tingkat kewedanan,
4) puskesmas tingkat kabupaten.
Pada tahun 1979 mulai dirintis pembangunan di daerah-daerah tingkat kelurahan atau desa, untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang berada di suatu kecamatan maka selanjutnya disebut sebagai puskesmas induk sedangkan yang lain disebut puskesmas pembantu, dua kategori ini dikenal sampai sekarang.

Sejarah singkat ini memberikan gambaran bahwa Puskesmas merupakan kumpulan dari berbagai keahlian kesehatan yang tujuan utamanya adalah membuat orang yang sehat tetap sehat. Pendekatan konsep kesehatan masyarakat harusnya menjadi hal utama dalam semua aktivitas puskesmas. Semua jenis pelayanan kuratif (perorangan) harusnya diminimalisir dan memperbanyak pelayanan promotif preventif secara kelompok masyarakat dan wilayah.

Harusnya kesuksesan sebuah puskesmas dilihat dari sedikitnya angka kesakitan yang diderita oleh masyarakat yang menjadi wilayah kerjanya. Semakin sedikit yang jatuh sakit maka semakin bagus kinerja puskesmas tersebut dan bukan sebaliknya. Inilah kerja promotif preventif yang sebenarnya.

Hal ini juga yang menjadi awasan dari Presiden RI Ir. Joko Widodo beberapa waktu yang lalu bahwa Puskesmas jangan bangga ketika setor PAD Tinggi.

Puskesmas harus terisi bukan hanya tenaga kesehatan semata namun semua tenaga lainnya seperti konsultan pertanian, peternakan, ekonomi, statistik, pendidikan,teknik, dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing yang dianalisis berdasarkan aspek geografi dan sosial budaya. Semua pihak yang ada di puskesmas ini harus terus membangun kerja sama lintas sektor dengan pemerintah kelurahan


dan kecamatan masing-masing.

Mereka harus memainkan perannya masing-masing untuk memajukan wilayahnya dengan berbagai strategi dan inovasi. Tujuan utama adalah warganya sejahtera, berkecukupan sandang, pangan dan papan. Setalah semua telah terpenuhi baru bicara soal kesehatan. Sebab omong kosong jika kita mengajak orang berperilaku hidup bersih dan sehat dengan perut yang kosong. Ucap direktur RS. Siloam ini..

Hal yang kita butuhkan saat ini adalah aksi nyata di lapangan, bagaimana bersama masyarakat membangun diri dan keluarga. Seorang ahli epidemiolog harusnya mampu mencegah terjadinya KLB bukan menunggu terjadinya KLB baru melakukan penatalaksanaan. Seorang ahli gizi harusnya mampu membuat ibu hamil melahirkan bayi tanpa BBLR, harus mampu membuat semua balita bergizi seimbang bukan sebaliknya memberikan suplemen gizi pada anak yang kurang gizi. Seorang sanitarian dan kesling harusnya mampu mencegah penyakit menular dan tidak menular bukan sebaliknya mengobati orang yang terkena malaria.

Seorang tenaga kesehatan masyarakat harusnya mampu menjaga orang sehat tetap sehat dan bukan sebaliknya memberikan penyuluhan kepada para pasien TBC. Begitu juga seorang farmasis yang baik harusnya memberikan edukasi pada masyarakat tentang kekuatan obat tradisonal yang ditanam dipekarangan untuk mengobati berbagai jenis penyakit sederhana seperti flu,sakit kepala, demam dan batuk. Bukan sebaliknya menunggu masyarakat di apotik puskesmas.

Inilah kondisi kita saat ini bahwa puskesmas menjadi sama fungsinya seperti rumah sakit, akibat semua fokus pada pelayanan kuratif primer. Memang mengubah pola ini sulit karena telah berurat dan berakar kuat. Jika saya dipercayakan masyarakat dan Tuhan berkahendak saya menjadi walikota Manado.
Maka saya akan membuat satu perubahan baru, ada terobosan besar yang harus terjadi. Minimal pangkas semua anggaran pertemuan koordinasi yang tidak perlu. Perkuat pelayanan seperti; kunjungan rumah, keluarga binaan, surveilans pencegahan, dan promotif lainnya.

Saya sering berdisuksi dengan rekan-rekan di puskesmas. Mendengarkan suka duka mereka setiap harinya dalam tugas.

Saat ini memang kita betul-betul membutuhkan cara yang baru, sebab sekali lagi kita tidak akan memperoleh hasil yang berbeda dengan cara yang sama. Salam Sehat!. Sehat warganya sehat juga Kotanya..