Advertisement
Advertisement
Disinyalir Tabrak Aturan, PPI Tolak Seleksi Paskibraka Manado!
Berita Utama

Disinyalir Tabrak Aturan, PPI Tolak Seleksi Paskibraka Manado!

Advertisement
LANGGAR: Hasil proses seleksi calon paskibraka di Kota Manado ditolak pengurus PPI Sulut karena dinilai melanggar permenpora nomor 0065 tahun 2015.
LANGGAR: Hasil proses seleksi calon paskibraka di Kota Manado ditolak pengurus PPI Sulut karena dinilai melanggar permenpora nomor 0065 tahun 2015.

MANADOLINK – Proses seleksi calon paskibraka Kota Manado terus menyisakan cerita negatif. Bahkan, penolakan resmi dilontarkan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Provinsi Sulut.

Advertisement

Secara tegas, perhimpunan alumni paskibraka Indonesia di Sulut ini menolak hasil seleksi yang dilakukan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Manado. “Ini pelanggaran yang tidak dapat ditoleransi, karena sangat jelas pelanggaran permenpora soal seleksi paskibraka,” tegas Hendro Kawatak, Ketua PPI Provinsi Sulut, didampingi Michael Besouw dan Iwan A Moniaga, wakil-wakil ketua PPI Provinsi Sulut.

Menurut Kawatak, secara prosedur dan teknis seleksi dinilainya menyalahi permenpora nomor 0065 tahun 2015. “Harusnya proses seleksi dilaksanakan sesuai tahapan yang termaktub pada permenpora. Anehnya, tahapan seleksi ada yang dibalik,” tegas dia, diamini Besouw dan Moniaga. Tahapan tersebut adalah seleksi kesehatan. Sesuai permen no 65, tahapan tersebut dilakukan setelah seleksi berkas. Namun kenyataannya, tahapan justru dilakukan belakangan. “Jika prosesnya belakangan, dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan kepada capas yang mengalami gangguan kesehatan dan mengikuti seleksi berhubungan dengan kegiatan fisik,” tambah Besouw. Jika dilakukan sejak awal, tentunya sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi soal kesehatan. “Ketika seleksi kesamaptaan tentu capas akan mampu menjalaninya. Tapi jika kesehatan belum diperiksa, tidak diketahui kelayakan untuk menjalani tes fisik,” papar purna paskibraka Sulut tahun 1993 ini.

Sedangkan soal teknis, menurut Kawatak, laporan yang diterima adalah dugaan capas Putri yang mengalami struktur tulang kaki X. Selain itu, ukuran tinggi badan capas yang menjabat sebagai lurah tidak mencukupi standar sesuai permenpora. “Masalahnya luri capas lebih tinggi dari pada lurah. Sedangkan luri tinggi badannya 169 centimeter. Dengan begitu, berapa tinggi lurahnya,” ucap dia dengan nada bertanya.

Hal mendasar lainnya, diluluskan capas yang tidak mengerti wawasan kebangsaan. “Seorang paskibra harus tahu dan memahami wawasan kebangsaan. Jika nilai wawasan kebangsaan kurang, sudah otomatis tidak perlu diluluskan. Anehnya justru lolos,” sambung Moniaga. Belum lagi masalah lipat dan bentang. Menurut ketiga purna paskibra Sulut, hal tersebut menjadi prioritas penilaian. “Jika lipatan salah atau bendera jatuh nilainya nol,” kata ketiganya.

Masalahnya, terang Kawatak, Manado adalah barometer di Sulut, jika proses seleksi dilakukan dengan tidak benar akan berdampak buruk bagi daerah kabupaten/kota lain, secara otomatis, hal tersebut merugikan provinsi Sulut. “Manado adalah kota yang dikenal sebagai barometer provinsi. Apalagi semboyan walikota adalah kota cerdas, justru kejadiannya seperti ini yang sama sekali tidak mencerminkan kecerdasannya,” kunci Kawatak, Besouw dan Moniaga. (*)

Advertisement