Seriusi Masalah Warga Vs Mantos

BENTROK: Ketua Antara, Rignolda Djamaludin didampingi sejumlah personil organisasinya usai bentrokkan. (FOTO: beritamanado)

BENTROK: Ketua Antara, Rignolda Djamaludin didampingi sejumlah personil organisasinya usai bentrokkan. (FOTO: beritamanado)

MANADOLINK – Para  merasa tak puas dan melakukan perlawanan atas penimbunan lahan (reklamasi) yang dilakukan pengembang, Manado Town Square (), Sabtu (19/10) di jalan Boulevard Manado berbuntut saling serang. Pasalnya menurut keterangan Ketua Asosiasi Nelayan Tradisional () Sulawesi Utara (Sulut), Rignolda Jamaludin, sebelum terjadinya bentrok telah ada pertemuan para nelayan, pengembang dan  Sario yang hasilnya penimbunan belum boleh dilakukan.

”Insiden ini memang kita juga tak menyangka, karena sekitar jam 11 pagi tadi kita melakukan pertemuan bersama pengembang dan Camat Sario,  yang hasilnya para pengembang kami minta untuk belum melakukan aktivitas penimbunan di lokasi reklamasi yang katanya menjadi milik Mantos tersebut. Nelayan tentu merasa dirugikan karena lahan matapencarian mereka terganggu, nah setelah pertemuan yang nanti difasilitasi pemerintah Kota Manado, Senin (21/10) lusa baru kesepakatan pertemuan itu kita jalankan. Namun, ironisnya para pengembang melakukan penimbunan, dan tidak dilarang Camat, aksi pengembang inilah yang menuai reaksi nelayan dan terjadilah betrok, saling serang antara dua kubu,” ujar Rignolda yang juga dosen Unsrat Manado ini.

Tambah Rignolda meminta pihak pengembang untuk tidak ceroboh dan menabrak kesepakatan yang ada. Menurutnya, pemerintah Kota Manado perlu bertindak tegas dalam menyikapi persoalan tersebut agar nelayan tidak terus-menerus dirugikan. Dilain pihak dirinya mengingatkan pedagang agar tetap tenang menghadapi masalahan yang ada.

”Kalau kita lihat, memang kronologisnya pihak Mantos tidak hanya mengerahkan Security, tapi juga menurunkan beberapa karyawannya untuk menghadang dan melempar masyarakat dengan batu. Saat kejadian tadi, bila tidak ada kepolisian dan kita tidak menyuruh mundur nelayan maka akan terjadi banyak korban. Hari ini, sudah dua pedagang yang korban akibat dilempar batu oleh pihak Mantos, saya khawatirkan bila seluruh nelayan marah dan berontak. Untuk itu, kami meminta pihak pengembang jangan gegabah dan ceroboh melakukan tindakan sewenang-wenang pada para nelayan. Pemerintah Kota Manado pun kami minta bersikap tegas, jangan diam dan seolah menjalankan konsep standar ganda,” tukas mener Oda sapaan akrab Rignaolda ini menutup.

Berbeda dengan itu,  salah satu nelayan mengungkapkan pihaknya menilai , selaku pemilik Mantos tidak memiliki nurani. Tambahnya lagi mengatakan kalau nelayan mendo’akan agar apa yang menjadi hak mereka tidak terus diganggu pengusaha.Sekedar diketahui, para korban terdiri dari Junaidy Ahman usia 27 tahun yang terkena lemparan batu dari pihak Mantos, dan Opo usia 30 tahun yang juga mendapat hantaman dari pentungan. Masing-masing korban adalah nelayan yang berdomisili di Kecamatan Sario, lokasi kejadian di Kelurahan  hingga saat ini masih terlihat ramai dikunjungi warga.(bm/*)

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

2 Responses

  1. Keep functioning ,splendid job!

Pingbacks/Trackbacks