Advertisement
Advertisement
Minut

BMI-Waraney dan Pemkab Tolak FPI

Advertisement
BERSATU: Organisasi adat dan pemerintah di Minahasa Utara bersatu hati menolak khadiran FPI

MINUTLINK – Sesuai agenda yang tertunda pada Senin 22/7 lalu, yang mana Lembaga Swadaya Masyarakat Adat Brigade Manguni Indonesia Sulawesi Utara (BMI Sulut) dan Waraney Puser In’Tana Toar-Lumimuut bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara menghelat ibadah bersama yang tertunda karena Pemkab Minut terkendala dengan agenda pemerintahan, akhirnya pada Senin 29/7 kemarin, terlaksana. 
  LSM BMI Sulut yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pdt Hanny Pantouw awalnya mempertontonkan rekaman kiprah LSM BMI di seluruh wilayah Sulawesi Utara yang seutuhnya bersinergi dengan rakyat. Disaksikan oleh seluruh struktural LSM BMI, Bupati Drs Sompie S F Singal MBA, Wakil Bupati Yulisa Baramuli SH, Sekdakab Drs Johannes A Rumambi, Asisten II, Asisten III, serta jajaran SKPD, FKUB dan BKSAUA Minut. 
Usai menayangkan rekaman kiprah LSM BMI, Pdt Hanny Pantouw mengajak hadirin agar pada tayangan tadi, jangan salah pemahaman.”Kita ambil sisi positifnya, bukan negatifnya,”tutur Pantouw. 
Bupati Drs Sompie S F Singal mengaku bahwa pemerintah sangat butuh bekerjasama dengan LSM untuk banyak hal yang tentunya demi membangun dan menopang kesejahteraan rakyat.”Kita bukan anti agama, ras dan anti kelompoknya, tapi kita menolak unsur, oknum maupun kelompok yang tidak selaras dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945,”tukas bupati yang sangat mendukung adat, budaya dan bahasa Minahasa Raya itu.
Menurut Sompie (Bupati Minut red-), pemerintah bersinergi dengan LSM BMI selama upaya dan terobosan tersebut bersinergi dalam keberpihakan kepada rakyat.”Kami setuju dengan tujuan BMI yaitu mengawal keamanan dan kedamaian. Kepada BMI, saya suport untuk maju terus, maju, dan maju demi mengawal keamanan, kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara dan Minahasa Utara”,kata Singal lagi. 
Bupati juga mengibaratkan keadilan itu terhadap dirinya dan kerukunan agama yang ada di Kabupaten Minahasa Utara.”Agama Islam dan Kristen itu ibarat anak bagi saya. Ketika Kristen merayakan hari raya, saya ajak Islam menjaga keamanan, dan sebaliknya ketika Umat Islam berhari raya, Agama Kristen yang ganti menjaga. Hal ini sudah menjadi turun – temurun sebagai satu keluarga yang rukun dan tak terpisahkan. Saya pribadi lebih berharap agar kalau ada pihak lain yang mencoba merongrong tali persaudaraan kita, maka sebagai ayah melindungi anaknya, saya akan tolak mentah – mentah,”ungkap Sompie yang merupakan penasehat dari LSM BMI itu.  (John) 

Advertisement

 

Advertisement