Advertisement
Minut

Sompie Ajak Masyarakat Lestarikan dan Pelihara Hutan

PENGHARGAAN: Bupati Minut, Drs Sompie Singal menerima penghargaan dari Presiden RI, DR Susilo Bambang Yudhoyono

MINUTLINK – Bupati Drs Sompie SF Singal MBA, membuka kegiatan sosialisasi peraturan perundang-undangan pemanfaatan Sumber Daya Alam (SD, di Hotel Sutan Raja, Kamis 18 Juli 2013. Acara bertajuk sosialiasasi tentang Perubahan peruntukan dam pemanfaatan kawasan hutan dihadiri perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), stakeholder dan pemerhati lingkungan.

Menurut bupati, Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem, berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati, yang didominasi pepohonan dalam persekutuan lingkungannya. Pemerintah kini telah menetapkan kawasan-kawasan hutan untuk dipertahankan keberadaannya. Ada kawasan hutan konservasi, kawasan hutan suaka, kawasan pelestarian alam, kawasan taman buru, hutan lindung, hutan produksi, dan kawasan hutan produksi tetap. Ada juga hutan produksi terbatas, hutan produksi yang dapat dikonversi, dan hutan tetap. Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan dilakukan untuk memenuhi tuntutan dinamika pembangunan nasional, serta aspirasi masyarakat. “Perubahan peruntukan kawasan hutan bisa dilakukan tetapi harus sesuai dengan aturan, aspirasi masyarakat dan kepentingan masyarakat,” kata bupati.
Dilanjutkannya, oleh sebab itu, pelepasan kawasan hutan ataupun perubahan peruntukan kawasan hutan harus disosialisasikan kepada masyarakat secara cermat dan cerdas. Dikaji secara ilmiah untung dan ruginya serta prospek ke depan akan kawasan hutan tersebut. “Dikaji juga aspek yuridis, aspek ekologi, serta aspek ekonomi, sosial dan budaya. Ini dimaksudkan untuk mencegah konflik di masyarakat,” ujar Singal. “Pelestarian hutan adalah tanggung jawab kita, pemanfaatan adalah tanggung jawab kita dan keselamatan hutan juga adalah tanggung jawab kita. Oleh sebab itu, setiap tuntutan perubahan pemanfaatan kawasan harus dicermati serta dipelajari demi keselamatan lingkungan hidup,” kata Singal.
Bupati juga menambahkan, Program Sentuh Tanah, Sentuh Budaya dan Sentuh Air terus dilestarikan demi kelangsungan hidup manusia. Tiga program ini biarlah tetap dilestarikan di era globalisasi ini, tanpa mengabaikan semangat kearifan lokal untuk menopang kehidupan masyarakat Minahasa Utara.  (John)