Advertisement
Berita Utama

Waraney Puser In’Tana Tetap Tolak FPI di Sulut

John Coy Pandeirot

MINUTLINK – Organisasi masa (ormas) adat yang lahir dari idealisme tradisi NKRI, LSM Waraney Puser In’Tana Toar – Lumimuut (WPITT-L) menegaskan, menolak kehadiran FPI di Sulawesi Utara. Waraney berkomitmen sumpah – setia membela Tanah Malesung dari dari rongrongan pihak atau golongan yang tidak bertanggung jawab.
Demikian Ketua Umum LSM WPITT-L) John F Pandeirot saat bersua media ini siang tadi.

Dijelaskan Choy, panggilan akrab Pandeirot, sesuai sumpah dan janji bersama para leluhur, pihaknya siap mengawal keamanan dan kerukunan masyarakat Sulawesi Utara dari niat – niat buruk pihak asing dengan tujuan merusak tanah Nyiur Melambai. “Sumpah – setia menjaga kerukunan antar umat beragama dan keutuhan NKRI, kami sangat menjaga keamanan di Tanah Malesung ini dari aneka aktifitas kelompok yang ekstrim”,ujar Pandeirot.
Menurut dia, LSM WPI’TT-L tidak pernah ada niat mengintervensi upaya siapa saja yang hendak berorganisasi apalagi beragama.”Kalau organisasi agama yang di benarkan oleh Pancasila dan UUD 1945, pasti kami terima. Tapi kalau ormas berkedok agama namun prakteknya menyimpang, silahkan enyah dari tanah leluhur kami, sebab di Sulawesi Utara ini agama adalah persaudaraan,”,timpal dia.
Pandeirot juga menghimbau dengan hormat agar para petinggi Ormas Front Pembela Islam (FPI) dari mana saja, untuk menghargai idealisme masyarakat Provinsi Sulawesi Utara yaitu menolak kehadiran mereka di Sulut sembari memuji keputusan Pemkot Bitung. “FPI sebaiknya menghargai penolakan masyarakat Sulut. Saya juga salut pada keputusan Walikota Bitung dan Asisten I yang lebih berpihak pada rakyat untuk menolak ormas ekstrim tersebut. Semoga pemerintah di kabupaten/kota yang lain di Sulut juga berbuat seperti itu, seperti Kabupaten Minahasa Utara, Minahasa, dan lain – lain,” tandas Pandeirot.
Penolakan sebagian besar masyarakat Provinsi Sulawesi Utara terhadap kehadiran ormas FPI memang cukup beralasan. Pasalnya dari sekian berita yang ada, FPI itu adalah ormas yang tidak segan – segan mengambil sikap kasar dalam menangani beberapa masalah.”Tidak ada agama yang mengajarkan hal – hal ekstrim seperti FPI itu.
Di Sulut ini agama apa saja sudah hidup berdampingan. Islam itu indah, Kristen itu Kasih, jadi sebaiknya tidak usah diusik”,himbau Efendy Hasan pemuda asal Kota Kotamobagu yang kesehariannya bekerja di salah satu koperasi di Kecamatan Airmadidi. (john)