Who’s the Next?

Seisar Kembuan (Wartawan manadolink.com)

“Ini baru pemimpin, baru lantik langsung tancap gas,” celetuk seorang bapak mengomentari tayangan televise di sebuah rumah kopi di Manado.

Dengan wajah sumringah, lelaki 50 tahunan ini terus menyaksikan tayangan soal merakyatnya Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta. Tampak jelas kegaguman akan sosok pemimpin seperti Jokowi, terpancar di wajahnya. “Mudah-mudahan pemimpin Minahasa Tuhan kase rupa dorang (Jokowi/Ahok-red), seloroh bapak tadi pelan.

Sikap orang tua tadi, yang jelas menggambarkan adanya perubahan di Tanah Minahasa membawa saya berpikir jikalau nanti Minahasa memiliki pemimpin sekelas dan sehebat Jokowi.

Jika melihat fakta saat ini, Komisi Pemilihan umum Daerah (KPUD) Minahasa telah menetapkan lima pasangan calon yakni, CN Runtu/Denny Tombeng, Jantje W Sajouw/Ivan Sarundajang, Hangky A Gerungan/Recky J Montong, Ariane Frederik Nangoy/Jeffry Mentu dan Ny Kaseger/Novi Mewengkang.

Manakah dari ke lima pasang calon ini yang menyerupai Jokowi/Ahok? Sudah pasti euphoria pemimpin DKI Jaya akan melekat pada JWS/Ivansa. Mengapa? Karena pasangan itu diusung oleh PDIP sebagai kendaraan menuju suksesi Minahasa 12/12/12 nanti. Dimana partai berlogo banteng gemuk dalam lingkaran itu juga merupakan partai pengusung pemimpin Jakarta saat ini.

Mulai terlihat, kemana-mana, JWS/Ivansa terus mengenakan kemeja bercorak kotak. Meski belum dalam massa kampanye, namun disetiap pergerakan mereka pasti bermaskot kotak-kotak.

Kembali pertanyaan menggelitik saya. “Apakah ini yang namanya euphoria kemenangan kotak-kotak?”. Secara umum mungkin jawabannya pastilah YA! Orang pasti melihat dari tampak luarnya saja. Karena pasangan itu diusung partai dan juga menggunakan kemeja kotak-kotak yang sama dengan sang fenomenal Jokowi/Ahok. Apakah hal itu menjamin kemenangan? Karena jika ditimbang luarnya saja, pasangan HAG/RJM juga menggunakan setelan kemeja kotak-kotak. Hanya saja pasangan yang katanya dikenal merakyat ini berbeda warna semata. Namun gaya dan ciri pendekatan mereka hamper mirip dengan apa yang dilakukan Jokowi. Selalu turun ke bawah dengan menyapa warga dari dekat. Inilah kelebihan pasangan yang satu ini. Dengan dating dan berbaur bersama, menjadi poin penting dalam suksesi nanti. Tapi apakah itu menjadi jaminan?

Bagaimana dengan pasangan usungan duet partai penguasa, Partai golkar dan Partai Demokrat. Kalau diukur dari perolehan kursi wakil rakyat Minahasa, kedua partai ini memiliki suara mayoritas. Tapi apakah itu menjadi ukuran?

Jangan remehkan kekuatan pasangan independen AFN/JM. Jumlah dukungan yang diberikan memenuhi syarat pencalonan. Itu merupakan dukungan riil warga kepada pasangan ini. Mantan penantang pada pemilukada sebelumnya ini tentu memiliki pengalaman dalam perhelatan ini. Dan so pasti belajar dari kegagalan waktu lalu, telah disiapkan strategi jitu. Sementara Kaseger dan Mewengkang adalah pasangan penuh kepercayaan. Belum Nampak strategi yang dijalankan namun meyakini menjalani perhelatan ini. Dengan modal financial dan pengalaman birokrat, pasangan ini berani melangkahkan kakinya di kancah ‘peperangan” Tanah Toar Lumimuut.

Dari kacamata saya, pasangan-pasangan ini memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Siapa pemenangnya, akan ditentukan dengan strategi serta factor X yang telah terbukti terjadi di Kabupaten Minahasa periode-periode sebelumnya. (*)

Comments are closed.