Advertisement
Berita Utama

Warga Kawanua Dipercaya ‘Berkuasa’ di Italia

August Parengkuan (Foto: Kompasiana)

JAKARTALINK – Sebuah kepercayaan diberikan negara untuk putra kawanua yang satu ini. August Parengkuan, mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Duta Besar di Itali. Parengkuan tercatat sebagai wartawan senior ke sembilan yang mengemban tugas negara itu.
Berikut beberapa cerita yang ditulis Ishadi SK, tentang warga Kawanua yang memang bercita-cita menjadi seorang diplomat.
Di Istana Negara, Senin, 3 September 2012, August Parengkuan dilantik menjadi Dubes Berkuasa Penuh RI untuk Italia. August menjadi wartawan kesembilan yang menempati Posisi Duta Besar RI semenjak Indonesia merdeka.

B.M. Diah merupakan wartawan pertama yang dilantik menjadi Duta Besar RI untuk Cekoslowakia dan Hungaria tahun 1959. Setelah itu Adam Malik menjadi Dubes RI untuk Uni Soviet dan Polandia tahun 1962, dan bahkan menjadi Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden RI.

Setelah itu berturut-turut Sabam Siagian untuk Australia tahun 1967. Dajafar Assegaf untuk Vietnam tahun 1993 – sebelumnya H Rosihan Anwar yang ditawari Presiden Suharto untuk jabatan itu, namun menolak atas dasar alasan keluarga. Hazairin Pohan, SH MA, mantan wartawan harian Waspada Medan yang menjadi Duta Besar Indonesia Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Polandia tahun 2006.

Selanjutnya mantan redaktur Majalah Tempo Salim Said menjadi Duta Besar RI di Republik Ceko tahun 2007. Wartawan Majalah Tempo, Susanto Pujomartono, diangkat sebagai Dubes RI untuk Uni Soviet dan Joko Susilo, anggota Komisi 1 DPR RI, yang mantan wartawan Jawa Pos diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Austria tahun 2010.

Menempatkan seorang mantan wartawan senior pada Pos Kedutaan RI di luar negri memiliki banyak ‘keuntungan’. Sebagai wartawan apalagi dari sebuah koran besar tentu telah akrab dengan permasalahan aktual yang terjadi di Indonesia maupun dalam kaitan dengan hubungan diplomatik antara negara-negara. Para editor senior untuk kepentingan media yang bersangkutan biasanya ditugaskan untuk melobi kalangan diplomatik negara sahabat. Misalnya menghadiri undangan resepsi atau pertemuan chief editor yang sering dilakukan kalangan kedutaan besar di Jakarta. Sehingga mereka sudah akrab dengan tata cara dan agenda diplomatik di lingkungan kedutaan.

Sementara itu ‘keuntungan’ lain media tempat bekerja pasti memberi dukungan sepenuhnya dalam memudahkan ia bekerja di Pos KBRI yang baru. Paling tidak memberi akses liputan atau tempat khusus baginya untuk berkomunikasi dan menginformasikan hal-hal di seputar negara yang ditugaskannya. Selain itu sebagai wartawan senior ia tentu telah sangat memahami dapurnya media, bagaimana ‘memanfaatkan’ media, serta bagaimana ‘berhubungan’ dengan orang-orang media.

Lagipula tentun dia memiliki jaringan eksklusif dengan teman sesama redaktur di Indonesia – hingga bisa dengan mudah mengakses jalur pemberitaan lewat media tersebut. Bukankah dua pertiga dari tugas duta besar di manapun sekarang ini adalah membangun dan menjaga pencitraan negaranya lewat media?

August Parengkuan saya kenal sejak lama, waktu ia mulai sebagai wartawan 40 tahun lalu. Kala itu ia menjadi wartawan Istana, posisi yang ditempatinya selama lima tahun (1966-1971). Sebuah posisi yang diperebutkan oleh para wartawan karena selalu terbuka kesempatan berhubungan dekat dengan kepala negara dan mentri anggota Kabinet.

August Parengkuan dengan scooter Lambretanya mencari berita menghubungi nara sumber atau pulang balik ke kantornya untuk menyiapkan berita eksklusif yang didapatnya. Pergaulannya yang luas memudahkan ia memperoleh informasi.

Lepas dari posisi sebagai wartawan senior di Istana, karirnya melejit dengan cepat. Sebagai redaktur bidang politik harian Kompas (1981-1987), wakil redaktur pelaksana Kompas (1989 – 1990), hingga wakil pemimpin redaksi Kompas (1993-2000). Sebuah posisi prestisius di harian itu karena langsung berada di bawah Jakob Oetama – yang waktu itu menjabat Pemimpin Redaksi.

August Parengkuan yang sejak awal bercita-cita menjadi diplomat itu, awalnya pindah dari Makasar tempat dia sekolah. Di Jakarta dia masuk Akademi Dinas Luar Negri. Namun ternyata sesampainya di Jakarta Akademi itu telah dibubarkan, hingga kemudian ia ‘terdampar’ di Kompas, institusi yang kemudian membesarkannya dan akhirnya mengantarnya memenuhi cita-citanya menjadi diplomat, dalam posisi tertinggi Duta Besar Berkuasa Penuh RI.

Italia tentulah tidak asing lagi untuk seorang August Parengkuan. Negeri itu telah beberapa kali dikunjungi, antara lain saat mengikuti rombongan Presiden Suharto dan khususnya Presiden Megawati, yang buat dia secara pribadi mempunyai kedekatan ‘khusus’ sejak lama. Sebagai Pemred Harian terbesar di Indonesia, ‘Kompas’ yang sejak awal secara rutin membahas perkembangan ekonomi Indonesia dan dunia, August Parengkuan tentunya paham betul arti strategis negara Italia di era krisis Eropa saat ini.

Italia menjadi penentu dari barometer krisis Eropa. Kalau Italia makin terpuruk, semakin besar kemungkinan krisis besar Eropa tak terkendali. Tapi sebaliknya jika Italia bisa keluar dari krisis berarti krisis Eropa mempunyai harapan akan berakhir.

Buat Eropa, Italia yang jumlah penduduknya besar (60,4 juta) dengan GDP (US$ 2.246.000 juta ) dan memiliki industri berat dan strategis menjadi kunci untuk mengatasi krisis Eropa sekarang. Sehingga keberadaan August Parengkuan di sana paling tidak untuk memberikan informasi mutakhir sekaligus analisis up to date perkembangan Italia dalam menangani krisis Eropa seakrang ini, akan amat berarti karena Informasi itu amat sangat dibutuhkan bagi pengambil keputusan di Indonesia.

Selamat bertugas, Bung August Parengkuan.(*)